Minggu, 25 Mei 2014

Lingkungan Belajar Pendidikan Tinggi Jarak Jauh


LINGKUNGAN BELAJAR
PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH

A.       Membangun Jaringan Belajar
1.        Mengapa dan bagaimana jaringan belajar?
Menurut Kolb, 1984 menyatakan bahwa belajar adalah suatu upaya yang secara sadar dilakukan dengan tujuan memahami sesuatu atau belajar diketahui sebagai suatu hasil dari pengalaman. Sedangkan prosses belajar merupakan proses yang tersituasi dan kontekstual dengan lingkungan tempat proses belajar tersebut terjadi.
Sejalan dengan perkembangan ilmu, teknologi dan seni, lingkungan belajar dalam masyarakat semakin lama semakin kompleks, yang dapat kita saksikan dan kita alami dewasa ini. Manusia tidak lagi hanya belajar secara langsung dari manusia lain tetapi belajar dengan berbagai cara dari berbagai produk ilmu, teknologi, dan seni.
Salah satu alternative belajar yang kini mulai banyak dikembangkan adalah belajar dengan menggunkanan jaringan belajar. Makna asli jaringan adalah suatu system yang komponen-komponennya salaing terhubung atau suatu system interkoneksi komponen atau sirkuit. Paradigma belajar dalam jaringan belajar dipandang sebagai teori mengetahui dan belajar yang bersifat holistic karena tidak melihat individu pebelajar secara terpisah, tetapi melihat fenomena belajar dalam diri manusia secara keseluruhan sebagaimana hal itu tampak sebagai perwujudan dari kesadaran pribadi.
Hal yang sangat penting dari teori belajar holistic tersebut adalah bahwa belajar dipandang sebagai proses yang berlandaskan pengalaman, melalui resolusi konflik dialektis adaptasi individu secara holistic dengan lingkungan, melibatkan transaksi individu dengan lingkungan, dalam konteks menyeluruh proses pembangunan pengetahuan.

2.     Penerapan prinsip-prinsip pendidikan pada jaringan belajar
Levin (1995) membuat kerangka konseptual dengan mengajukan lima komponen jaringan belajar, yaitu : struktur, proses, mediasi, pengembangan komunitas belajar, dan dukungan institusi. Konsep rancangan pembelajaran tersebut mengkombinasikan interaktivitas, multimedia dan kendali pengguna. Prinsip-prinsip tersebut ialah sebagai berikut :
a.       Rancangan perlu menarik perhatian pengguna melalui penerapan rancangan yang mudah dipahami, alat navigasi yang konsisten, dan pribadi, yaitu dapat membuat pengguna merasa rancangan tersebut dibuat khusus untuknya.
b.      Rancangan mengimformasikan pada pembelajar mengenai tujuan pembelajaran.
c.       Rancangan menyajikan daftar prasyarat yang perlu dikuasai sebelum mengikuti suatu sesi.
d.      Rancangan dapat memelihara minat dan keterlibatan pembelajaran melalui beragam jenis sajian (teks, grafik, video, dan suara).
e.       Rancanagan menyediakan umpan balik melalui menu bantuan, dan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan.
f.        Rancangan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan individual pembelajar dengan menyajikan banyak cara untuk menyajikan suatu konsep.
g.       Rancangan mampu memperkuat kinerja pembelajar melalui ajuan masalah dan tugas-tugas.
h.      Rancangan menyediakan umpan balik mengenai kinerja kepada pembelajar dan instruktur.
i.         Rancangan menyediakan penilaian kinerja melalui pengujian.
j.         Rancangan memiliki fasilitas pemantau dan pencatat kemajuan instruktur.
Menurut Barker (1999) prinsip-prinsip belajar yang pelu diterapkan pada rancangan pembelajaran dalam jaringan belajar, adalah sebagai berikut :
1)     Dalam rancangan seyogyanya menghindari pengajaran yang bersifat terlalu menjelaskan (instructivist) untuk hal-hal yang kurang penting, tetapi memberikan tekanan yang lebih besar pada pendekatan belajar konstruktif.
2)     Disediakan lingkungan belajar yang dapat memfasilitasi terbentuknya kelompok belajar, sehingga pebelajar dapat memperoleh bantuan belajar melalui jaringan dalam kelompoknya.
3)     Disediakan kemudahan akses yang lebih besar bagi pebelajar untuk menghubungi staf akademik (pengajar) melalui jaringan elektronik.
4)     Disediakan kemudahan untuk melakukan penilaian diri pebelajar dan melakukan pemantauan kemajuan belajarnya.
5)     Kemudahan bagi pebelajar untuk memperoleh materi ajar dalam cara yang efektif dan memanfaatkan kekayaan semua sumber belajar yang tersedia dalam jaringan, yang tidak mungkin diperoleh melalui penyajian di kelas konvensional.
Dron (2002) menyatakan bahwa jaringan belajar merupakan lahan penelitian yang subur bilamana memperhatikan pendayagunaan potensi kelompok pembelajar dalam mengorganisasikan sendiri kegiatan belajarnya.
Suatu sistim jaringan belajar yang dinamakan CoFind merupakan jaringan belajar yang membangun untuk dapat mengorganisasikan dirinya sindiri melalui ciri-ciri berikut ini :
a)     Topic
Topic ialah pengetahuan atu perilaku yang dipelajari termasuk konsep, fakta dan prosedur.
b)     Forum diskusi
Wawancara dalam forum diskusi diberi peringkat berdasarkan pada jumlah pembacanya dan penilaian kualitasnya oleh peserta.
c)      Jadwal kegiatan
Peserta dapat melihat jumlah peserta yang mengikuti suatu kegiatan dalam kalender kegiatan tersebut, sehingga kegiatan yang paling popular dapat diketahui bersama.
d)     Berita dan pengumuman
e)     Daftar peserta
f)       Daftar kelompok
g)     Ruang untuk berbicara

3.     UT Online Sebagai Upaya UT Untuk Membangun Suatu Jaringan Belajar Berskala Nasional
Pada bagian ini akan dibahas UT oline yang merupakan upaya untuk membangun suatu jaringan belajar berskala nasional. Tujuan utama UT online adalah untuk membantu meningkatkan kualitas belajar mahasiswa dengan menyediakan layanan bantuan belajar dapat dipandang pula sebagai upaya membangun jaringan belajar berskala nasional. Secara umum layanan yang tersedia melalui UT online dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu : informasi umu, akademik, dan akses pada empat jurnal elektronik, database penelitian dank e-Indonesia-an (Infosia), catalog perpustakaan online, dan program AA/Pekerti online.
Komponen jaringan belajar menurut kerangka Levin adalah :
·         Komponen struktur
Komponen struktur mengacu pada posisi aktivitas dalam jaringan terhadap program pembelajaran secara keseluruhan, apakah program pembelajaran seluruhnya akan disampikan melalui jaringan dan pertemuan tatap muka, serta jadwal aktivitas berikut topic yang akan dibahas dalam program pembelajaran.
·         Komponen proses
Komponen proses mengacu pada aktivitas yang akan dikerjakan oleh peserta selama proses belajar.
·         Komponen mediasi
Komponen mediasi berkenaan dengan pemantauan aktivitas belajar serta pemberian bantuan bila ada kesulitan baik dalam teknis pemakaian peralatan jaringan maupun dalam materi yang dipelajari.
·         Komponen pembangunan komunitas
Komponen pembangunan komunitas mengacu pada aktivitas supaya peserta belajar menjadi satu komunitas yang selain salaing mengenal juga dapat bekerja sama adalam aktivitas belajar.

B.       Dukungan Perpustakaan Dalam Pendidikan Tingggi Jarak Jauh
1.     Masalah Layanan
Salah satu ciri penting SBJJ adalah fleksibilitas dalam belajar. Dengan adanya fleksibilitas, mahasiswa menjadi pusat dalam pemberian layanan. Artinya semua jenis layanan dalam pembelajaran ditujukan untuk kepuasan mahasiswa. Dengan demikian, proses belajar dalam Sistim Pendidikan Jarak Jauh (SPJJ) bentuknya seperti forum komunikasi jaringan belajar, yang meliputi mahasiswa sebagai subjek, dosen atau ahli materi pembelajaran, instruktur atau tutor dan perpustakaan.
Upaya memberikan layanan yang sama kepada seluruh mahasiswa banyak mengalami kendala, terutama dalam hal transportasi dan komunikasi. Perjalanan pos untuk daerah-daerah tertentu memakan waktu yang cukup lama. Demikian juga dengan komunikasi. Dalam kondisi infrastruktur tersebut dapat dibayangkan bagaimana sulitnya UT memberikan layanan yang memadai kepada seluruh mahasiswa UT. Hal itu memang sudah diprediksi sejak UT masih dalam rancangan pendiriannya.